2
1 Perempuan 14 Laki-Laki


Kalau ngeliat nama penulisnya, dijamin bakalan banyak orang yang langsung bilang bukunya pasti bagus, gitu juga denganku, yang awalnya langsung mikir buku ini pasti keren banget, ditulis oleh Djenar Maesa Ayu bareng temen-temennya, tanpa konsep, ide mengalir gitu aja, tanpa kompromi, setelah yang satu selesai, trus dilanjutin sama yang lain, setelah selesai, balikin lagi ke partnernya untuk ngelanjutin cerita, jadi masing-masing cerita ada 2 penulis, semua partnernya cowok, makanya judulnya "1 Perempuan 14 Laki-Laki". Aku ngerasa konsep menulisnya keren bangeeet.

Dulu pernah ada juga yang nulis kayak ini, gak persis sama sih, tapi agak mirip,  Pidi Baiq & Happy Salma, judulnya “Hanya Salju dan Pisau Batu”, mereka belom pernah ketemu, komunikasinya cuma lewat email, isn’t it crazy? Banyak yang bilang bagus, tapi aku belom baca, di banda aceh rada susah ketemu yang kayak  kayak gini, rectoverso dan 1 perempuan 14 laki-laki aja harus nitip ama temen yang di Jakarta, yang banyak biasanya buku2 populer kayak yang dibikin Raditya Dika atau teenlit—teenlit gitu yang aku gak terlalu suka, atau bahkan emang gak suka sih,  hehe.. kalo teenlit, biasanya aku  suka baca yang punya luar negeri, karna kayak yang dibilang Clara Ng, teenlit  Indonesia itu terlalu monoton, terlalu sopan, padahal kan isu remaja itu banyak banget dan  complicated, bukan cuma cerita tentang pemain basket atau cewek idola di sekolah, tambahan lagi, bahkan humornya pun makin lama makin  garing. Beuh ini kenapa pembahasan jadi kemana-mana irnaaaa?


 


Balik lagi ke kumcer terbarunya Djenar Maesa Ayu. okay, setelah baca semua ceritanya, aku agak kecewa, mungkin karna ekspektasi yang terlalu tinggi, dan saat hasilnya gak sesuai kayak yang kita harapkan, jadinya ya kayak gini. Dari keseluruhan cerita, cuma ada 3 cerita yang aku suka, Kunang-Kunang dalam Bir, Napas Dalam Balon Karet (ini yang paling favorit), dan POLOS. Ada 1 lagi yang lumayan aku suka juga, Ra Kuadrat (tapi gak sesuka yang 3 tadi, karna yang ini pendeeeeek banget) sedangkan 10 cerita lainnya aku gak begitu suka, karna banyak formula yang berulang, tentang seks atau perselingkuhan. Aku sama sekali gak masalah saat penulis memasukkan adegan seks dalam cerpennya, tapi kalau hal itu berulang secara terus-terusan di tiap cerita, jadinya terkesan kayak mengumbar hal-hal tertentu untuk membuat cerita itu jadi sexy, terutama saat kita nggak menemukan kekuatan dalam ceritanya.

Menyeruput kopi diwajah tampan, sebenarnya bakalan kusuka kalo aja belom pernah nemuin cerita kayak gini. di endingnya, semua itu cuma khayalan tokoh utamanya yang sedang berada di rumah sakit (jiwa), semua tokoh pendukung adalah orang-orang yang kerja disitu, sumpah mirip bangetkan sama pintu terlarang, trus dulu aku juga pernah baca yang kayak gini di novelet “violet”, gak persis sama sih, tapi endingnya tetep tokoh utamanya di rumah sakit jiwa, trus shutter island juga, dan waktu masih SD, aku pernah nonton film kayak gini, tapi lupa judulnya apa, makanya gak terlalu ngerasa "wow" lagi.

Balsem Lavender, bagian yang paling kusuka cuma dialog ini, pria: “Balsem dengan aroma lavender ada nggak?”, “Balsem aroma maksiat juga ada,” jawab perempuan itu ketus. Lucuuu..

Gak tau ya, aku ngerasa cerpen disini banyak yang cuma fokus terhadap keindahan kata-kata dan melupakan apa yang namanya rasa #halaaah tapi beneran loh, aku ngerasanya gitu, ceritanya kurang kuat dan aku gak dapet feelnya, cerpen-cerpen Dewi Lestari di Rectoverso kan juga pendek-pendek banget ya, tapi aku ngerasa ceritanya lebih berkarakter (Oops genrenya beda ya, tampar tampar diri), bagi aku, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia – Agus Noor masih jauuuuh lebih kerenlah, aku suka gimana dia menggabungkan kritik sosial, drama dan fantasy sekaligus, two thumbs up. kenapa perbandingannya Agus Noor? karna mereka sama-sama suka nulis tentang kritik sosial.

Well, ini cuma personal opinion, sekedar sharing apa yang aku rasain terhadap buku ini, bukan mengklaim bahwa buku ini gak bagus, aku gak punya hak buat ngasih penilaian kayak gitu, bukan pakar sastra soalnya, yang aku tau aku suka atau gak suka, yup itu aja, karna tiap orang punya selera dan pendapatnya masing-masing, bukankah kita tidak harus suka pada apa yang diklaim sebagai kelas A, dan harus tidak suka pada sesuatu yang dari sepuluh bintang hanya dapat lima. Nah mungkin aja bagi orang lain, buku ini adalah salah satu buku favoritnya, hanya saja orang itu bukan saya. Demikian.




Back to Top