0
The Promise


3 tahun yang lalu, mereka berjanji bertemu di sebuah taman. karena itulah di hari yang sudah ditetapkan, sang gadis sudah berada disana, menunggu seorang lelaki yang belum terlihat dari tadi. Lelaki itu tidak telat, paling tidak belum telat. Gadis ini sengaja datang 3 jam lebih awal karena terlalu nervous. Ia mulai mereka-reka bagaimana wajah lelakinya sekarang, lama tak bertemu membuatnya sedikit ragu, takut bila pria yang dipuja sudah berubah menjadi seseorang yang tak lagi memikat,  menjadi terlalu gemuk atau terlalu kurus, atau mungkin pernah tabrakan sehingga harus operasi plastik dan wajahnya tak lagi sama seperti dulu. Tapi terlebih lagi, ia takut bila perasaannyalah yang akan berubah.


Jam 16.30 gadis ini mulai berkeringat, padahal cuaca cukup ramah hari itu, tidak panas dan juga tidak hujan, jenis cuaca yang membuat kita merasa mesra dan ingin bermanja. Tepat jam 5 sore, sesuai dengan janji mereka, ada seorang lelaki yang tersenyum dan melambaikan tangan dari seberang jalan. Gadis ini merasa takjub melihat kekasihnya berubah menjadi sangat tampan, tapi begitu ia ingin menyapa, pria itu malah melewati bangkunya dan menuju lurus kebelakang. Tenyata dari tadi dia tersenyum pada seorang perempuan yang cantiknya luar biasa di ujung sana. jam 17.20, datanglah seorang pria yang sedikit gemuk dan terlihat sangat nelangsa. Gadis ini bersyukur dia hanya menanyakan arah jalan. Banyak yang lalu lalang di taman itu, tapi sayangnya bukan orang yang ia tunggu. Dia mulai bosan dan memutuskan untuk pulang saja. Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak memanggilnya. Teriakan pertama membuatnya berhenti tapi tak mampu membuatnya menoleh. teriakan kedua, dia mencoba meyakinkan diri bahwa itu suara yang dia kenal. Untuk lebih pasti, dia pun menunggu teriakan yang ketiga.  Tapi sayangnya tidak ada teriakan yang ketiga, karena orang yang berteriak-teriak dari tadi langsung berdiri dihadapannya.


”Maaf... maaf... tadi dari bandara aku terjebak macet” dia bicara diantara nafas yang sedikit terburu-buru,”kamu udah lama ya?”

Gadis itu tidak menjawab apa-apa, hanya memperhatikan wajah kekasihnya, mencoba mencari sesuatu yang berbeda, tapi tidak ia temukan, atau mungkin ada. Entahlah, yang pasti perasaannya tidak.

”hey, kok malah diem? katanya kangen,”

Gadis itu tetap membisu, tapi kali ini ada senyuman yang merekah di bibirnya.

”kamu kenapa sih?”

Tanpa basa-basi lagi, dia menghujani kekasihnya dengan sebuah pelukan dan sejuta ciuman, hingga pria itupun ikut terdiam bersamanya, kecuali suara jantung mereka yang berdebar semakin kencang.


*iseng-isengan dini hari
*inspired by : Adhitia Sofyan - Forget Jakarta
*inspired by, bukan terinspirasi dari lirik lagunya, tapi waktu dengerin lagunya, adegan  inilah yang kebayang (aiiiih... matek)



SPP = Seberapa Pentingkah Pencitraan ?


Hey, postingan kali ini bukan mau bilang kalau pencitraan itu enggak boleh koook.. jadi jangan esmosi dulu yaaa buat yang ngerasa gila pencitraan. Silahkan silahkan.. Gak ada yang ngelarang, cuma kadang-kadang suka heran aja, kenapa sih pada rame banget yang tergila-gila diliat sebagai orang yang positif? Sebagai orang baik, sebagai orang yang sempurna, yang begini atau begitu. Banyak yang melakukannya dengan cara mengumbar ibadah dan kebaikannya juga, (sumpah ini bukan sirik karna aku gak punya kebaikan yang bisa dibilang-bilang) plus berkomentar tentang sesuatu yang tak dipahami benar hanya karna sering diberitakan di media, mungkin cuma pengen eksis atau terlihat update, atau mungkin juga memang benar-benar kritis, hingga tampil dengan begitu dramatis. Nah lucunya, kadang-kadang didetik ini ngomongnya “begini”, didetik laen ngomongnya “begitu”, didetik lainnya lagi, balik ke "begini" blah, ini sebenarnya alter ego mana sih yang ingin ditampilkan? well, aku cuma penasaran aja, segitu pentingnyakah anggapan orang-orang sampai mereka ingin slalu tampil sempurna?


Back to Top