0



Udah lama ga ngeblog, bikin susah untuk mulai nulis lagi. Well, sebenarnya banyak banget yang pengen dishare, tapi ga tau kenapa tiba2 kalo udah mulai berhadapan sama laptop, malah bingung mau nulis apa..

Anyway, tadi aku nonton acara ILK *jarang-jarang loh nonton tipi* tadi tema-nya IRT dan perempuan yang bekerja, komennya banyak yang bego-begoan doank sih, tapi ada beberapa yang serius juga, dari sekian banyak yang ngasih komentar rata-rata semuanya berpatokan pada uang, okay mungkin itu adalah salah satu faktor utama, tapi yang membuat aku heran kenapa ga ada yang membahas tentang aktualisasi diri? tentang kebutuhan seseorang untuk bekerja karena memang dia pengen bekerja, tentang kebutuhan seseorang untuk melakukan sesuatu sesuai dengan minat, bakat, potensi, dan kemampuannya, ingin membagi ilmunya kepada yang lain, ingin memanfaatkan ilmunya, ingin melakukan sesuatu yang memang ingin dia lakukan, sesuatu yang bisa membuatnya bahagia. Entah memang mungkin di jaman sekarang orang-orang ga lagi memikirkan hal itu, atau mungkin juga karena yang hadir tadi semuanya menjadikan uang sebagai patokan untuk segala hal.

Di acara itu juga dibahas tentang hari Kartini. aku ga protes tentang hari kartini, tapi juga ga memuja-muji Kartini, karna aku punya pahlawan lain yang aku idolakan, tapi kalau sebagian besar masyarakat indonesia menjadikan kartini sebagai idolanya ya silahkan. Tadi aku terharu banget karna ada yang membahas tentang Cut Nyak Dhien dan perempuan Aceh, bukannya haus pengakuan terhadap ketegaran pahlawan dan perempuan Aceh, cuma ngerasa surprise aja ada yang membahas tentang perempuan Aceh di stasiun tv nasional di hari kartini.

Ada seorang perempuan yang meninggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Sumedang, perempuan itu Cut Nyak Dhien. Ketika Teuku Umar meninggal, anak perempuannya Cut Gambang mau menangis. Sebagai ibu dia cuma mengatakan "perempuan Aceh pantang meneteskan air mata untuk seorang yang mati syahid."

Sebagai perempuan di fora publik atau di medan perang, dia mengatakan "kami memang hancur tapi tidak pernah ada kata menyerah." perjuangannya kemudian digambarkan oleh penulis laki-laki dari Belanda.

Wanita Aceh gagah dan berani merupakan perwujudan lahiriah yang tak kenal menyerah yang setinggi-tingginya, dan apabila mereka ikut bertempur maka akan dilakukannya dengan energi tetap semangat berani mati yang kebanyakan lebih dari kaum lelaki. Bahwa tidak ada bangsa yang lebih pemberani dan fanatik seperti bangsa Aceh, kaum wanita Aceh melebihi kaum wanita di bangsa manapun.


 :')


Udahan ya, segitu doank yang pengen ditulis..


Back to Top