0
My Parent, My First Teacher


Katanya anak-anak ga akan ingat apa yang orangtua katakan pada mereka, tapi mereka akan ingat bagaimana orangtuanya bersikap. Hal ini mengingatkan aku pada orangtua-ku. mereka adalah guru pertamaku. 

Di dalam keluarga kami, tidak ada istilah laki-laki lebih diutamakan dari perempuan, ketika masyarakat masih percaya "laki-laki makan duluan, setelah mereka selesai baru perempuan boleh makan", di keluarga kami tidak pernah ada hal-hal yang seperti itu. Ibuku adalah ibu rumah tangga (bukan karna ayahku melarang bekerja) tapi ayahku membantu ibuku dalam pekerjaan rumah tangga, walaupun ayahku ga pernah masak, tapi dia membersihkan kamar mandi, bersihin halaman belakang, kadang-kadang cuci piring, bantuin ibuku bersihin ayam dan daging pas "meugang", beli ikan, bersihin ikan, cuma kadang-kadang bangeeet aku ngeliat ibuku bersihin ikan, itu juga kalo ikan kecil-kecil yang belinya di tukang ikan yang lewat2 depan rumah. abis shalat subuh, biasanya ibuku tidur lagi, bangun saat mau nyiapin sarapan. did my my dad blabber about it? of course no, because it's never been an issue.

Saat orang-orang menganggap istri harus menghargai dan menyenangkan hati suami, mereka lupa bahwa suami juga perlu menghargai dan menyenangkan hati istri. Ibuku ga bisa capek, jadi tiap kali abis bersihin rumah seharian, pasti malamnya badan sakit-sakit, terus ayahku yang mijitin ibuku. Apakah ibuku perempuan lemah lembut? tidak, she's far from that type of woman, ibuku adalah perempuan yang tegas dan berani mengeluarkan pendapatnya, she reads a lot and my dad respects her opinion, very much (my dad also reads a lot). Ayahku sangat menghargai ibuku, ga pernah sekalipun ayahku bilang masakan ibuku ga enak atau gosong atau kurang garam, atau apalah (mungkin karna emang ibuku jago masak dan masakannya selalu enak :p) kalo makan aku suka milih-milih gitu, ga suka sayur dan yang berkuah, kalo aku bilang ga suka makanannya, ayahku pasti langsung yang "enak ah.. coba dulu, bla bla bla.." padahal ibuku biasa aja, malah ayahku yang heboh nyuruh makan.

Orantua kami juga tidak pernah membeda-bedakan anak laki-laki dan anak perempuan, abangku ikut ngebantuin kami bersihin rumah sebelum lebaran, pasang gorden udah jadi tugas-nya. dan tidak ada istilah karena mereka anak laki-laki, jadi bajunya dicuciin dan disetrikain, semuanya sama aja, harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Dalam keluarga kami, aku melihat hal-hal yang seperti ini, kemudian ketika aku mulai keluar dan berada dalam masyarakat, aku melihat gimana laki-laki menganggap pekerjaan rumah tangga hanya pantas dilakukan oleh perempuan, gimana mereka menganggap perempuan tidak sepantasnya bekerja di luar rumah, tugasnya hanyalah menyenangkan hati suami. Ini ga hanya terjadi di Aceh, tapi di seluruh Indonesia. waktu aku les bahasa jerman di jakarta, gurunya ngasih tema untuk debat gitu tentang "perempuan bekerja", bisa dibilang mayoritas cowok yang ada di kelas itu menganggap perempuan seharusnya tidak bekerja, yang ada di kelas itu adalah lulusan Unsyiah yang akan kuliah master ke Jerman dan lulusan UGM dan UI. Beberapa alumni Unsyiah bilang "cewek sebaiknya di rumah aja, ngurus anak dan pekerjaan rumah tangga", salah satu alumni UI bilang, "laki-laki memiliki derajat yang lebih tinggi dari perempuan", wow, just wow! aku ga tau apakah itu bercanda atau ga, tapi bagi aku.. hal yang begini tidak pantas dijadikan bahan becandaan. Salah satu temen kuliah di jerman, anak indo juga (dulunya dia kuliah di UPH), bilang gini "istri tidak seharusnya memiliki pendapatan yang lebih tinggi dari suami.", ketika aku tanya kenapa, jawabannya "karna ego laki-laki.". again, wow! and i was like "you should deal with your ego!", Tidak ada yang salah saat mereka ingin mendapatkan istri 100% IRT yang dengan senang hati melakukan semua pekerjaan rumah tangga dan menuruti semua kata suami, well.. everybody has a type, tapi hal itu akan menjadi salah saat mereka menganggap bahwa semua perempuan harus seperti itu, karena perempuan juga punya passion, perempuan juga ingin mengaktualisasikan diri dalam masyarakat, perempuan juga punya mimpi. 

Sangat banyak ketidakadilan yang didapat oleh perempuan, perempuan seringkali tidak mendapat pendidikan yang layak (di daerah-daerah tertentu laki-laki lebih diutamakan untuk sekolah). Di beberapa tempat di pakistan, cewek tidak boleh ke mesjid. Ketika terjadi perkosaan, yang disalahkan adalah perempuan, karena perempuan berpakaian sexy, membuat laki-laki tidak bisa menahan nafsu. ketika yang diperkosa adalah perempuan berjilbab, mereka bilang, berarti ceweknya lagi apes. Bahkan saat bercanda, seringkali perempuan direndahkan.. ketika terjadi sexual assault di Cologne pas tahun baru, cowok indo yang kuliah di satu universitas denganku (beda jurusan) bilang gini "kalo si X suka tuh digituin", ya! mereka cuma becanda, dan ya! cewek ini juga ga bilang apa-apa, tapi apa pantas becanda kayak gini? one thing that i cannot do is being good friends with this kind of people, of course i can hangout with them sometimes, but not good friends, because i can't deal with their way of thinking and they can't deal with mine. in some cases, i'm too serious and thoughtful and they're just... too shallow.

Melihat alumni UI, UGM, UPH, alumni Unsyiah yang pintar secara akademik yang kemudian dapat beasiwa, mahasiswa-mahasiswa bachelor yang kuliah di luar negeri udah bertahun-tahun, masih memiliki cara berpikir yang seperti ini, membuat aku sadar bahwa nilai akademik yang tinggi, kuliah di universitas ternama, tinggal di luar negeri, tidak akan serta merta membuat seseorang itu menjadi cerdas dalam melihat permasalahan.

Di Indonesia yang tidak setuju dengan gender equality bukan cuma sebagian laki-laki, tapi juga perempuan (ga ngerti kenapa), sebagian orang berpendapat bahwa persetaraan gender memaksa perempuan untuk bekerja di luar rumah, memaksa perempuan untuk mendapat pendidikan yang tinggi. padahal tidak begitu.. kalau perempuan memilih untuk tidak bekerja, itu hak mereka, yang ditekankan disini adalah.. ketika mereka ingin bekerja, mereka memiliki kesempatan tersebut, tidak ada paksaan.

Aku pro #Heforshe bukan karna Emma Watson, aku pro gender equality bukan karena aku menganggap hal itu keren, tapi karna aku menganggap itulah yang seharusnya kita lakukan, tidak seharusnya peran perempuan dikerdilkan dalam masyarakat. gender equality atau feminism bukan tentang membenci laki-laki, bukan tentang tidak ingin diperlakukan sebagai perempuan, bukan tentang tidak ingin dimanja, bukan tentang menganggap laki-laki adalah makhluk brengsek. Gender equality adalah tentang perempuan memiliki hak untuk mendapat pendidikan yang setara dengan laki-laki, memiliki kesempatan yang sama dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan mendapat gaji yang sama dengan laki-laki untuk pekerjaan yang sama, memiliki hak untuk mengejar cita-cita dan mimpi, tidak hanya memiliki hak untuk bersuara dan mengeluarkan pendapat, tapi juga memiliki hak untuk didengar selayaknya orang-orang mendengar pendapat laki-laki.

I think my mom and dad are feminists, even when they are not even aware of the existence the word feminism and they don't even know what it means being a feminist. my parent taught me about gender equality before it became popular, my parent didn't tell me women have equal rights to men and men have equal responsibilities to women, they simply showed me, it's not that i'm trying to be cool or trying to look like a heroine when i said i'm a feminist, that's just the only way that i know how to feel and think, that women should get equal opportunity as men, that women should not be silenced, women should not be viewed as a sex object. and when the society tells me the other way, i'm supposed to agree with it? of course i can't. and i won't!

Women's rights are human's rights, but some people keep closing their eyes, when they are proud of their ignorance, they will stick to their own idea, and there's nothing we can do about it. It's better to focus on whatever we can do rather than being distracted by them.

*no, i'm not angry. i'm just sick of these sexists*
*sexist isn't sexy*
*you know who's sexy? Justin Trudeau, Neil Gaiman, Benedict Cumberbatch, Andy Murray. They're guys and they're feminists. and if you think they're gay, they're not.*


0 komentar:

Back to Top